Batu Quran, Cibulakan, Pandeglang

Batu Quran, Pandeglang, Banten

versi Rakyat Pandeglang …
Sejarah dari Batu Quran berkaitan erat dengan Syekh Maulana Mansyur, ulama Banten yang terkenal di abad ke 15. Batu Quran di Cibulakan ini, menurut penuturan penjaga Batu Quran ini dahulu adalah pijakan kaki Syekh Maulana Mansyur ketika hendak pergi berhaji ke tanah suci, Mekah.

Dengan membaca basmalah sampailah beliau ke tanah suci, Mekah. Ceritapun berlanjut ketika Syekh Maulana Mansyur pulang dari Mekkah muncul bersama dengan air dari tanah yang tidak berhenti mengucur. Penjaga Batu Quran menyakini bahwa air yang mengucur tersebut adalah air zam zam.

 

 

10014582_10152498538008322_1372613201309858504_n_zps33af6f2b

 

 

Jalan menuju lokasi

1097956_10152498541878322_5632411497695356079_n_zps18e63269

 

view

10172788_10152498548063322_8470373966521618412_n_zpsc151cf63

 

1959292_10152498562133322_2968816629800452111_n_zpsb90b5b86

 

10169197_10152498549103322_5218545111788696114_n_zpscd1079fd

 

10259872_10152498547478322_27027837275124735_n_zps91d0ec93

 

1966706_10152498568478322_65490480901240005_n_zps6cf998a7

 

 

10251959_10152498568293322_782386474979263340_n_zpsdb3fbcdf

 

10269522_10152498569743322_8070943826357410266_n_zpsa2fba2ae

 

Video

 

 

 

Batu Quran (Cibulakan)
Bagi para penziarah makam atau petilasan para nenek moyang (karuhun) orang Sunda pasti tidak merasa asing dengan nama wisata Batu Quran (Cibulakan) dengan Sumur Tujuhnya (Cikoromoi) yang merupakan salah satu tempat wisata ziarah Kabupaten Pandeglang, Banten (tepatnya 20 km dari kota Pandeglang). Batu Quran ini berkaitan erat dengan nama Syekh Maulana Mansyur, seorang ulama terkenal di jaman kesultanan Banten abad ke-15.
Syekh Maulana Mansyurlah yang meninggalkan warisan berupa Batu Quran tersebut. Tapi tahukah kalau yang ada di Cibulakan itu adalah replika dari Batu Quran yang ada di Sanghyang Sirah, Taman Nasional Ujung Kulon. Mungkin banyak orang yang belum mengetahui tentang sejarah Batu Quran yang sebenarnya. Sejarah Batu Quran di Sanghyang Sirah berkaitan erat dengan sejarah Sayidina Ali, Prabu Kian Santang dan Prabu Munding Wangi. Apa alasan Syekh Maulana Mansyur membuat replika Batu Quran tersebut ?

Mungkin orang sudah banyak mengetahui sejarah masuk Islamnya Prabu Kian Santang yang diislam oleh Sayidina Ali ketika Prabu Kian Santang melakukan perjalanan ke jazirah Arab. Setelah masuk Islam, Prabu Kian Santang kembali ke tanah Jawa di daerah Godog Suci, Garut dimana Prabu Kian Santang mengajarkan Islam kepada pengikutnya.
Sebagai orang Islam sudah tentu harus dikhitan. Karena keterbatasan pengetahuan Prabu Kian Santang maka terjadi banyak kesalahan dalam melakukan prosedur khitan. Bukan yang ujung kulit penis yang dipotong tapi dipotong sampai ke ujung-ujungnya. Bisa bayangkan pasti banyak yang meninggal dengan kesalahan tersebut. Akhirnya Prabu Kian Santang mengutus orang untuk menemui Sayidina Ali di jazirah Arab dengan tujuan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang baik dan benar tentang Khitan secara Islami.
Kemudian Sayidina Ali dan orang suruhan Prabu Kian Santang pergi ke Godog Suci untuk memberikan pelajaran cara khitan dan beberapa pengetahuan tentang Islam. Disamping itu Sayidinna Ali ingin menyerahkan Kitab Suci Al Qur’an. Sebagai orang Muslim maka sudah pasti harus berpatokan kepada Al Quran. Karena sejak bertemu pertama kali Sayidina Ali belum pernah menyerahkan kitab Al Quran kepada Prabu Kian Santang.

Ternyata sesampainya di Godog Suci, Prabu Kian Santang telah meninggalkan tempat tersebut dan pergi menemui Prabu Munding Wangi yang telah tilem di Sanghyang Sirah, Ujung Kulon untuk memberitahukan kepada ayahandanya kalau beliau telah menetapkan hatisebagai seorang muslim. Mendengar berita tersebut Sayidina Ali mengejar ke Sanghyang Sirah sebagai bentuk amanah dan perhatian agar Prabu Kian Santang mempunyai pegangan yang kuat berupa Kitab Al Quran. Masak sebagai muslim tidak memiliki Kitab Al Quran.
Konon di batu karang ini Sayidina Ali melakukan Sholat
Apa yang terjadi kemudian ? Ketika sampai di Sanghyang Sirah, Sayidina Ali hanya bisa bertemu Prabu Munding Wangi. Prabu Munding Wangi mengatakan kepada Sayidina Ali kalau Prabu Kian Santang telah pergi lagi dan menghilang entah kemana setelah mendapat restu dari ayahandanya. Prabu Kian Santang adalahg satu-satunya anak Prabu Munding Wangi yang menjadi raja tapi tidak pernah memerintah kerajaan karena hidupnya didedikasikan untuk penyebaran aga Islam.
Akhirnya Sayidina Ali menyerahkan dan menitipkan kitab Al Quran untuk disimpan dan berharap dapat diberikan kepada Prabu Kian Santang apabila berkunjung ke Sanghyang Sirah. Prabu Munding Wangi menerima kitab Al Quran dengan lapang dada dan disimpannya di dalam kotak batu bulat. Kemudian kotak batu berisi Al Quran tersebut ditaruh di tengah batu karang yang dikelilingi oleh air kolam yang sumber airnya berasal dari tujuh sumber mata air
Selanjutnya Sayidina Ali mohon diri tapi sebelumnya sholat terlebih dahulu di atas batu karang yang sekarang sering disebut Masjid Syaidinna Ali. Dengan kuasa Allah SWT, Sayidina Ali langsung menghilang entah kemana. Mungkin kembali ke jazirah Arab.

Peristiwa Batu Quran ini beberapa abad kemudian diketahui oleh Syekh Maulana Mansyur berdarkan ilham yang didapatnya dari hasil tirakat. Segeralah Syekh Maulana Mansyur berangkat ke Sanghyang Sirah. Betapa kagumnya Syekh Maulana Mansyur melihat kebesaran Allah lewat mukjizat Batu Quran dimana dari air kolam yang bening terlihat dengan jelas tulisan batu karang yanng menyerupai tulisan Quran. Sayangnya saat ini air kolam sudah keruh dan sulit untuk melihat batu karang dengan tulisan Quran karena banyaknya endapan di dasar kolam dan banyaknya penziarah yang membuang pakaian bekas mandiannya ke Batu Quran.
Karena jauhnya jarak Sanghyang Sirah dan membutuhkan waktu dan energi yang luar biasa maka untuk memudahkan anak cucu ataupun umat Islam yang ingin melihat Batu Quran maka dibuatlah replika Batu Quran dengan lengkap sumur tujuhnya di Cibulakan Kabupaten Pandeglang. Saat ini saja untuk menuju Sanghyang Sirah lewat Taman Jaya membutuh waktu 2 hari satu malam dengan berjalan kaki dan membutuhkan waktu 5 jam dengan menggunakan kapal laut dari Ketapang, Sumur menuju Pantai Bidur yang dilanjutkan berjalan kaki selama hampir 1 jam menuju Sanghyang Sirah. Bisa dibayangkan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai kesana pada jamannya Syekh Maulana Mansyur.
* Ziarah Wali BlogSpot *

Ritual mandi 7 bunga untuk calon pengantin
Ziarah ke Syekh Yusuf Mansyur, Pandeglang, Banten