Menyelusuri Angin Mamiri_7

Makam Syekh Yusuf di Kobbang Makassar

Terletak di jalan yang berbatasan dengan antara kabupaten Gowa dan kota Makassar, tepatnya di jalan Syekh Yusuf, terletak makam ini. Gerbang kota Sungguminasa terlihat dari sini. Di Timur kota Makassar, makam ini berhampiran dengan masjid yang juga dinamai Masjid Syekh Yusuf. Biasa juga kawasan ini disebut dengan Kobbang. Dalam keterangan penjaga makam yang akrab dipanggil Daeng Liong, penyebutan Kobbang sebenarnya berasal dari kata kubah. Karena pengaruh bahasa Makassar maka berubah menjadi pelafalan Kobbang atau Ko’bang.
Ziarah ke Makam Syech Yusuf

Ziarah ke Muhammad Makmur begelar Dato’ ri Panggentungan
(paman syekh Yusuf, di Sungguminasa, Gowa, Makassar)

 

Peziarah kerap datang dengan semangat yang beragam. Menjadi pemandangan yang lazim jika menyaksikan diantara para pengunjung adalah anak kecil bahkan bayi, orang sakit bahkan dengan kondisi lumpuh, orang tua. Di sisi depan jalan sudah tersedia perlengkapan untuk berkunjung. Bunga pandan dan air yang biasa digunakan orang-orang Sulawesi Selatan untuk nyekar tersedia lengkap. Maka bagi peziarah yang menggunakan kelengkapan itu, tidak perlu mempersiapkan sendiri, cukup membelinya di sekitaran makam. Bahkan juga tersedia minyak goreng yang disiapkan dalam botol bekas salah satu merek minyak gosok. Minyak ini biasanya digunakan untuk melumuri nisan utama. Dalam kepercayaan penjaga kunci, nisan utama terbuat dari endapan sungai Nil, Mesir. Tidak ada pembayaran apapun ketika berkunjung ke makam. Kalaupun ada pemberian atau sedekah yang diberikan kepada petugas atau pembaca doa, maka urusan jumlah diserahkan kepada masing-masing pengunjung. Makam ini menjadi daya dukung perekonomian masyarakat sekitar masjid. Tumbuh di sisi jalan toko penjual minuman dan makanan. Penyedia jasa bunga dan air putih, juga minyak. Begitupula para penjual kambing dan ayam kampung. Sekecil apapun jumlanhnya dengan keberadaan makam ini menjadi penggerak ekonomi.

Syekh Yusuf salah satu ulama besar di zaman kolonial. Bahkan karena ketakutan penjajah akan pengaruhnya, maka Syekh Yusuf dibuang ke Faure, Cape Town, Afrika Selatan. Di saat kekalahan kerajaan Gowa, Syekh Yusuf memilih pindah ke Banten. Di wilayah Sultan Ageng bersama dengan 400 orang pendukungnya mereka membantu perjuangan kerajaan Banten melawan Belanda. Ketika Sultan Ageng dikalahkan Belanda, Syekh Yusuf ditangkap kemudian diasingkan ke Sri Lanka. Di sana, beliau tetap aktif menyebarkan Islam dan mengajar murid-muridnya.Kekhawatiran Belanda masih saja terjadi karena mengetahui adanya kontak Syekh Yusuf dengan murid-muridnya di Nusantara. Kembali Belanda mengasingkan ke tempat yang lebih jauh yaitu Afrika Selatan. Ketika jenazah dibawah pulang ke Lakiung, Gowa muncullah kepercayaan kalau makam Syekh Yusuf terdapat di lima tempat yaitu di Sri Lanka, Banten, Sumenep, Makassar dan Afrika. Di setiap tempat itulah persinggahan jenazah mayat Syekh Yusuf ketika dipulangkan ke tanah Makassar.

Prakarsa ini muncul dari I Mappadulung Daeng Muttiang, Raja Gowa ke-19 yang khusus meminta kesediaan VOC agar memulangkan jenazah Syekh Yusuf. Kemudian murid-muridnya yang senantiasa ingin mengambil inspirasi dari ilmu yang diajarkan masing-masing membuat makam di tiga tempat yang disinggahi jasad ulama yang diberi gelar Tuanta Salamaka yang berarti “orang yang memperoleh keberkahan dari Allah”. Tepat 6 April 1705, di Lakiung, Gowa, keranda mayat Syekh Yusuf kembali dimakamkan dan bertahan sampai hari ini.

Para pengunjung tidak saja datang ketika hari raya, terutama di hari raya idul adha tetapi sepanjang hari selalu saja dipenuhi para peziarah. Untuk menentukan waktu yang sepi berkunjung, maka amat susah menebak kapan itu. Berbagai hal menjadi pendorong semangat untuk berkunjung. Ada yang merayakan kesyukuran adapula sekedar untuk mendapatkan semangat, begitu pula ada yang berbagi kebahagiaan. Maka biasa kita saksikan ada peziarah yang melepaskan ayam atau kambing. Dalam kepercayaan para peziarah itu, “sebagai tanda kesyukuran atas anugrah Allah”. “Bukan kepada Syekh Yusuf, tetapi ini adalah tempat yang pas untuk memanjatkan kesyukuran itu”, tandas seorang pengunjung. Kadang ada juga yang menghamburkan uang logam, maka atraksi ini senantiasa menjadi saat yang dinantikan warga sekitar atau bahkan sesama pengunjung. Mereka akan berlomba memperebutkan saweran pengunjung lain. Maka, suasana akan berubah yang tadinya khusyuk dan hening menjadi riuh dan ribut.

Syekh Yusuf adalah ulama bahkan disebut wali. Dengan kemahsyurannya bahkan beliau kerap dianggap sebagai tokoh internasional. Oleh para pengikutnya diberi gelar dengan nama lengkap Tuanta’ Salama’ ri Gowa Syekh Yusuf Abul Mahasin Al-Taj Al-Khalwati Al-Makassari Al-Banteni. Sementara Sultan Alauddin memberinya nama dengan julukan Syech Yusuf Tajul Khalwati. Sampai sekarang tarekat Khalwatiyah tetap menjadi salah satu aliran yang ditekuni di Sulawesi Selatan. Sementara ada tiga aliran dalam tarekat yang mengakui Syekh Yusuf sebagai guru mereka yaitu Tarekat Qadiniyyah, Shattariyyah, dan Rifaiyyah.Dalam konteks kenegaraan, Indonesia dan Afrika Selatan memberikan anugerah sebagai pahlawan nasional. Ini menjadi bukti penghargaan negara atas jasa-jasa kepahlawanannya memperjuangkan kemerdekaan bagi banyak orang. Nelson Mandella dalam acara pemberian Doktor Honoric Causa di Universitas Hasanuddin menyebutnya sebagai salah satu Putra Terbaik Afrika Selatan.

Walaupun bukan menjadi kewajiban, bahkan kontroversial, berkunjung ke makam Syekh Yusuf merupakan sesuatu yang afdhal (utama) dilakukan bagi masyarakat Sulawesi Selatan. Terutama yang menganut faham khalwatiyah. Seiring dengan meningkatnya pemahaman keagamaan, maka tindakan “aneh” seperti menangis atau meminta-minta di kuburan semakin berkurang dari waktu ke waktu.

Makam terletak persis di samping masjid. Ada lorong yang menghubungkan antara masjid dengan makam. Di kompleks ini tidak saja makam Syekh Yusuf tetapi juga ada makam para pengikutnya. Juga terdapat sembilan makam lainnya. Tepat di sisi kiri dekat pintu masuk, terbaring jazad I Sitti Daeng Nisanga, istri beliau yang menemani di kawasan ini. Kemudian makam Karaengta Panaikang, istri I Mappadulung Daeng Muttiang bersebelahan dengan makam suami. Terdapat empat kubah di kawasan ini, kubah yang terbesar dibuat khusus untuk makam Syekh Yusuf.

Makam ini sesungguhnya menjadi tempat untuk mengingat mati. Kata Daeng Sinnong pengunjung yang berasal dar Gowa “Allah yang menjadi sandaran untuk meminta”. “Adapun makam Syekh Yusuf hanya sebagai pendorong semangat agar senantiasa mengingat kematian”. Apapun motifnya, dengan alasan apapun berkunjung ke sini, maka menjadi penting untuk melihat bahwa ketika kematian datang menjemput nama besar akan tetap dikenang kecuali dengan karya.

sumber:
http://wisata.kompasiana.com/jalan-j…ar-494797.html

 

————————————-

Syekh Yusuf al-Maqassary dalam Narasi Tutur
(kompasiana)

PADA suatu malam (18/3), saya mendapatkan kabar dari seorang kawan, bahwa dia sudah tiba kembali di Batam dan dibawanya pula, salinan lontaraq Syekh Yusuf yang diperoleh dari keluarganya di Maros. Cerita tentang Lontaraq Syekh Yusuf ini bermula pada suatu malam di Hotel Novotel Mangga Dua, Jakarta, 6 Maret lalu, ditengah perbincangan seru kami—saya dan kawan karib, Muhammad Aspar—membahas tentang rencana penyusunan buku “Sejarah Kekaraengan Bontoa di Maros”, cerita kemudian beralih dari pembicaraan serius tentang Sejarah ke pembicaraan santai tentang mengenang masa kecil di kampung.

Banyak kesamaan kenangan masa kecil diantara kami, seperti masa kecil bermain di sawah dan empang, akkalawaki (mengembala kerbau), membuat burung – burung dari tanah dan bisa dibunyikan, anngocci kalobbang sikkuju (mencari kepiting sawah), akgasing (bermain gasing), aklongga atau maklongga (permainan rakyat menggunakan bambu untuk berjalan), Enggo’ – enggo’ (petak umpet), dan ragam permainan lainnya yang sungguh sangat disayangkan, anak – anak sekarang tidak lagi mengenalnya.

Cerita kemudian berlanjut pada kenangan narasi tutur yang sering diperdengarkan orang tua kami, ada kesamaan cerita yang sempat kami ungkap, yaitu sepenggal kisah tentang Syekh Yusuf Tuanta Salamaka ri Gowa, seorang ulama kharistimatis asal Sulawesi Selatan sekitar Abad 17 yang diuji ‘kesaktian’-nya di Danau Mawang bersama Dato’ ri Panggentungang dan I Lo’mo ri Antang, yang dibelakang hari saya ketahui bahwa cerita itu berasal dari naskah Lontaraq. “Keluarga saya punya lontaraqnya, saya pernah diperlihatkan semasa kecil”, ujar kawan karib saya tersebut seraya berharap semoga Lontaraq itu masih ada di rumah keluarganya setelah sekian tahun dia bekerja di Batam.

* * *

Cerita selengkapnya (versi narasi tutur yang saya terima) mengenai Syekh Yusuf di Danau Mawang tersebut adalah sebagai berikut :

Pada suatu hari I Dato’ ri Panggentungang berbincang – bincang dengan I Lo’mo ri Antang di pinggir Danau Mawang.

“Ae Lo’mo”, sapa Dato ri Panggentungang membuka pembicaraan.

“Ada apa Dato’ ?”, jawab I Lo’mo ri Antang.

“Bagaimana kalau kita menguji ilmu Yusuf, Kita undang dia kemari, ke Danau Mawang untuk memancingnya, sambil bicara – bicara soal Agama”, usul I Dato’ ri Panggentungang.

“Baiklah, saya setuju, mungkin Yusuf masih membutuhkan ilmu untuk bekal perjalanannya selanjutnya”, Ujar I Lo’mo ri Antang, mengamini usul I Dato’ ri Panggentungang.

(Perlu diketahui bahwa I Dato’ ri Panggentungang adalah Guru Syekh Yusuf di Gowa, putera dari Khatib Tunggal Abdul Makmur Dato’ ri Bandang, salah seorang dari Dato’ Tallua, penyebar agama Islam di Sulawesi Selatan sedang I Lo’mo ri Antang adalah salah seorang guru tasawuf Syekh Yusuf).

“Kapan kita undang Yusuf kemari ?” tanya I Lo’mo ri Antang.

“Lebih cepat lebih baik, Bagaimana kalau sekarang ?”, ujar I Dato’ ri Panggentungang.

“Baiklah”, ujar I Lo’mo ri Antang, menyanggupi.

Keduanyapun kemudian duduk bersemedi, konsentrasi, dan mengirim pesan panggilan kepada Syekh Yusuf di Balla Lompoa (istana) Maccini Dangang Sombaopu, tempat Syekh Yusuf mengaji kitta’ (belajar kitab-kitab agama).

Sementara itu, Syekh Yusuf yang sementara mengaji, tiba – tiba terasa dalam hatinya, ada isyarat panggilan untuknya. Mengetahui siapa yang memanggilnya, Syekh Yusufpun kemudian membalasnya setelah berpamitan kepada gurunya, Daeng Tasammeng, yang juga mengetahui adanya panggilan khusus itu.

Tidak berapa lama, Syekh Yusuf pun segera berangkat dan menyusuri Danau Mawang, di pinggir Romang Lompoa, tempat dimana dua panrita, I Dato’ ri Panggentungan dan I Lo’mo ri Antang, menunggunya.

“Assalamu ‘Alaikum wa Rahmatullahi wa barakatuh”, kedua panrita memberi salam kedatangan Yusuf.

“Wa ‘Alaikumus Salam wa Rahmatullahi wa barakatuh”, jawab Syekh Yusuf.

“Apa kareba anakku, Yusuf ?” keduanya bertanya.

“Alhamdulillah, sehat – sehat Dato’, sehat – sehat Lo’mo”, balas Syekh Yusuf.

“Anakku Yusuf, kami lama rindu kedatanganmu”, ujar I Dato’ ri Panggentungang.

“Lebih-lebih atanta (pernyataan hormat kepada yang lebih tua), atanta sekarang dalam keadaan haus”, balas Yusuf.

“Anakku Yusuf, kami berdua akan memberimu air penyejuk untuk menghilangkan dahagamu, agar anakku mendapatkan mata air yang lebih jernih dan bening”, sambung I Lo’mo ri Antang.

“Jangan khawatir anakku, Yusuf, kami memanggilmu kemari, untuk mendapatkan air yang kamu rindukan. Ingat Sabda Rasulullah yang menyatakan bahwa orang yang menuntunmu menuju dunia, sesungguhnya adalah orang yang mengkhianatimu. Orang yang mengajarkan kezuhudan dan pengekangan diri yang tak perlu, sesungguhnya malah membuatmu sedih dan susah. Dan orang yang menunjukimu jalan Allah, sesungguhnya adalah penasehatmu dan bermaksud baik kepadamu”, jelas I Dato’ ri Panggentungang.

Yusuf tertegun mendengar segala nasehat dan penuturan kedua tupanrita itu. Disimaknya segala pengajaran I Dato’ ri Panggentungang dan I Lo’mo ri Antang, sementara matahari yang mulai meninggi diatas puncak Gunung Bawakaraeng dan Lompobattang dan memantulkan cahaya diatas permukaan Danau Mawang yang jernih tiba – tiba berubah jadi gelap, langit jadi mendung, di sebelah barat awan mulai nampak pertanda akan turun hujan.

Ketiganya duduk dengan khidmat diatas barung – barung (rumah kecil/gubuk) di pinggiran Danau Mawang, sebelum mereka memutuskan memancing ikan di pinggiran danau itu. Nampak dari mulut ketiganya, tidak pernah melepas dzikirnya secara diam – diam. Pandangan ketiganya seakan menembus ke dalam air bening Danau Mawang dihadapannya.

Tiba – tiba terdengar suara guntur menggelegar, hujanpun turun dengan lebatnya seketika. Suasana berubah jadi gelap oleh awan tebal hitam, ketiganya pun menuju Barung – barung (rumah kecil / gubuk) untuk berteduh. Sambil menunggu hujan reda, I Dato’ ri Panggentungang mengeluarkan rokok (tambako tongka) dari lipatan sarungnya untuk mengusir rasa dingin, lalu disodorkannya kepada I Lo’mo ri Antang dan Syekh Yusuf . Keduanya menyambut pemberian I Dato’ ri Panggentungang, lalu mereka sama – sama menggulungnya dan membentuknya seperti rokok. Namun ketiganya saling berpandangan, karena mereka tidak membawa sumber api.

“Ada api, Dato’ ?” Tanya I Lo’mo ri Antang..

“Tidak ada”. Jawab I Dato’ ri Panggentungang.

Mendengar jawaban yang nihil, I Lo’mo ri Antang segera menaruh rokoknya dibawah tetesan air hujan yang jatuh dari ujung atap barung – barung, seketika rokoknya menyala dan mengeluarkan asap. I Lo’mo ri Antang lalu merokok.

Melihat I Lo’mo ri Antang sudah menyala rokoknya, I Dato’ ri Panggentungang tidak mau kalah. Ditunggunya kilat menyambar dan disulutnya rokoknya dari kilat yang menyambar itu, segera setelahnya I Dato’ ri Panggentungangpun merokok.

Sementara itu, Syekh Yusuf yang sedari tadi memperhatikan I Lo’mo ri Antang dan I Dato’ ri Panggentungang, jadi segan untuk meminta api kepada kedua Tupanrita tersebut. Ia kemudian melangkah menuju pertengahan Danau Mawang di kedalaman sebatas pangkal paha, lalu dicelupkannya rokoknya seraya berdo’a. Saat tangannya diangkatnya, seketika rokoknya pun sudah menyala ujungnya sedang batang rokoknya tidak basah sama sekali. Syekh Yusufpun merokok.

Dari jauh I Dato’ ri Panggentungang dan I Lo’mo ri Antang mengamati perbuatan Syekh Yusuf, dan di dalam hati keduanya, mereka mengagumi keyakinan dan kemampuan Syekh Yusuf .

“Ilmu apalagi yang ingin kau cari dan pelajari, Anakku Yusuf ?” tanya I Dato’ ri Panggentungang.

“Ilmu yang saya cari adalah : Pertama, jalan menuju keridhaan Allah, Kedua, mencari cinta yang hakiki, Ketiga, saya ingin menghilangkan hijab antara saya dengan DIA”, jawab Yusuf.

“Sungguh jalan itu cukup berat, Anakku Yusuf, Belajarlah terus dimanapun kau berada”, ujar keduanya memberi nasehat.

* * *

Demikianlah sepenggal kisah tentang Syekh Yusuf al-Maqassary yang penulis terima dari narasi tutur dan oleh kawan karib saya, Muhammad Aspar, narasi tutur itu berkembang dari cerita sebagaimana yang tertulis dalam naskah Lontaraq, yang sekarang dipunyainya, meskipun hanya berupa salinannya. Beberapa bagian atau penggalan kisah tentang Syekh Yusuf di Danau Mawang ini juga pernah disinriliq-kan oleh HM Siradjuddin Bantang.

 

————————-

 

Menurut Prof Dr. Azyumardi Azra, MA. (2004 : 259), Muhammad Yusuf al-Maqassari (1037 – 1111/1627-99) atau yang lebih familiar dengan sebutan Syekh Yusuf Tuanta Salamaka adalah perintis ketiga pembaharuan Islam di Nusantara setelah Nur Al-Din Al Raniry (w.1068 – 1658) dan Abdul Al-Ra’uf Al Sinkili (1024-1105 / 1615-1693). Mengikuti perjalanan hidup Syekh Yusuf, kita akan memasukan wilayah penjelajahan ilmu yang sangat luas, dari Sulawesi Selatan dan Jawa Barat, hingga Arabia, Srilanka dan Afrika Selatan.

Al Maqassary (Azyumardi A, 2004 : 288) adalah ulama yang luar biasa. Dia terutama adalah seorang sufi. Al Maqassari menurut Prof Dr Azyumardi Azra, mantan Rektor IAIN Jakarta ini dalam bukunya “Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII” adalah seorang mujaddid terpenting dalam sejarah Islam di Nusantara. Pengalaman hidupnya menjelaskan bahwa tasawufnya tidak menjauhkannya dari masalah – masalah keduniawian. Al Maqassry memainkan peranan penting dalam politik Banten dan melangkah ke garis terdepan dalam peperangan melawan Belanda setelah ditangkapnya Sultan Ageng Tertayasa.

Al-Maqassari menulis karya – karyanya dalam Bahasa Arab yang sempurna, persinggahannya yang lama di Timur Tengah memungkinkannya menulis dalam bahasa itu. (Azyumardi, 2004 : 288). Syekh Yusuf al-Maqassary, menurut Prof Dr Azyumardi Azra, menolak konsep Wahdat al-Wujud (Kesatuan Wujud atau monisme ontologis) dan Al-Hulul (Inkarnasi Ilahi). Menurut Syekh Yusuf, Tuhan tidak dapat diperbandingkan dengan apapun (Qs. 42 : 11). Sebaliknya, Syekh Yusuf mengambil konsep Wahdat al Syuhud (Keesaan kesadaran atau monisme fenomenalogis). (***)

Keterangan :

Tuanta Salamaka = Guru yang agung dari Gowa

To panrita = orang cendekia, guru.

Kareba = kabar

Romang Lompoa = hutan lebat

Sinriliq = salah satu jenis sastra daerah Makassar.

sumber:
http://sejarah.kompasiana.com/2011/0…ur-349920.html

Menyelusuri Angin Mamiri_8
Menyelusuri Angin mamiri_6