Menyelusuri Danau Rawa Pening, Salatiga

 

Menyelusuri Danau Rawa Pening, Salatiga
Jawa Tengah …..

Fenomena supranatural ….
sebuah jembatan di desa sraten, Salatiga ….
bila kita mengucapkan mantra sesuatu ….
yang lewat di atas jembatan ini akan terpaku …. tidak bisa bergerak …
bahkan bisa terguling

rawapening_05_zpsbbc307a6

 

 

 

Danau Rawa pening

rawapening_00_zpsaecca0ae

 

Tangga ….

rawapening_03_zps38d88009

 

 

View dari Bukit Cinta ………..

rawapening_01_zps9d70927a

 

 

Hening …………
di Petilasan (Leluhur kami dari Ibu)

rawapening_02_zps05652b66

 

 

 

 

 

 

 

SERIBU KISAH MISTIS DIBALIK KEELOKAN RAWA PENING
Menikmati lembayung senja di Rawa Pening memang membuat betah siapa saja. Namun siapa sangka di balik keelokannya tersebut rawa yang dipenuhi tumbuhan enceng gondok itu memiliki seribu kisah mistis yang di percaya warga sekitar dan cerita sejarah yang diwariskan turun temurun.

Muslimin (47) salah seorang tokoh masyarakat sekitar yang tinggal di kawasan Rawa Pening mengatakan bahwa Rawa yang terletak di antara kota Ambarawa dan salatiga ini dulunya dipercaya adalah sebuah desa bernama Malwapati. “Rawa Pening itu dulunya adalah desa Malwapati yang terendam air luapan dari lidi yang ditancapkan oleh Baru Klinting” ujar Muslimin yang juga seorang paranormal.

Menurut cerita yang diturunkan Kakeknya kepadanya, Baru Klinting adalah seekor ular yang dilahirkan oleh seorang wanita. Wanita tersebut adalah istri dari Ki Ajar Salokontoro, seorang sakti dari Desa Malwapati. Tapi Ki Ajar sendiri tak mau mengakui anaknya tersebut karena berupa ular.

Setelah tujuh tahun ular tersebut tumbuh menjadi besar dan ingin mencari pengakuan dari ayahnya bahwa ia adalah anaknya. Sang ayah memberikan syarat kepada Baru Klinting jika ingin diakui ayahnya. Syaratnya adalah melingkari Gunung Kelengker dengan tubuhnya.Kemudian Baru Klinting bertapa agar ia bisa memenuhi persyaratan ayahnya.

Suatu hari warga desa Malwapati ingin mengadakan hajatan besar. Para pria berbondong-bondong mencari hewan buruan di hutan untuk dimasak. Ketika mereka sedang beristirahat, tak sengaja salah seorang dari mereka menancapkan parangnya ke akar pohon. Namun kemudian mereka tersadar bahwa akar tersebut adalah ular raksasa setelah parang yang mereka tancapkan mengeluarkan darah. Warga beramai-ramai memotong-motong daging ular tersebut yang tak lain adalah Baru Klinting yang sedang bertapa.

Setelah pertapaannya Baru Klinting berubah wujud menjadi bocah. Ia berjalan menuju desa untuk mencari makanan. Namun warga desa Malwapati mengusirnya karena tubuhnya yang penuh luka dan bau. Kemudian Baru Klinting mendatangi seorang nenek tua bernama Nyi Lebah yang mau memberinya makan. Baru Klinting berpesan kepada Nyi Lebah supaya berlindung di lumpangnya ketika nanti terjadi banjir. Kemudian Baru Klinting pergi.

Baru Klinting pun kembali ke desa Malwapati dan membuat sebuah sayembara mencabut lidi bagi warga desa Malwapati. Namun karena tak ada yang bisa mencabut, akhirnya Baru Kilnting sendirilah yang mencabutnya. Dari cabutan lidinya itu keluarlah air yang sangat deras sehingga menggenangi desa tersebut. Dan Baru Klinting dipercaya masih hidup sebagai seekor ular penjaga Rawa Pening.

Tak sedikit warga sekitar rawa yang mengaku pernah melihat ular raksasa, yang dipercaya sebagai Baru Klinting. “Waktu saya mencari ikan malam hari di rawa, saya sangat kaget ketika melihat ular berwarna keemasan yang hampir sebesar ban mobil,” ungkap Rohani (37) seorang pencari ikan di sekitar rawa. Selain Rohani, ada juga Udin (28) yang juga pernah mengalami hal serupa, “Waktu saya pulang kerja sekitar jam 11 malam, saya melihat ular sebesar pohon kelapa melata di pinggir jalan,” ujarnya.

Kisah mistis legenda Rawa Pening masih dipercaya warga sekitar hingga kini. Ular besar yang sering dilihat warga dipercaya sebagai jelmaan si Baru Klinting. Untuk menghormati legenda tersebut, warga sekitar masih rutin menggelar acara ritual larung sesaji setiap setahun sekali.

Ziarah di Tujuh Sumur & Kramat Uyut Serpong
Candi Tikus