Ngujang, Tulungagung

Ngujang, Tulungagung

Bercanda dengan mereka

11141733_10153667276173322_6452246496518060172_n_zps6weil2ut

11666146_10153667273348322_2060723766082862114_n_zpsrwl495tk

Kaum mereka ………

11667378_10153667277388322_1168989058148081888_n_zpsxwdi1kgf

11215173_10153667290228322_402722681790010037_n_zpsjuswitk8

11541980_10153667289458322_5375965819821447057_n_zpsul3s5bqa

11709776_10153667377978322_3930840678948348729_n_zpslnikwkjb

Makam ………..

Rumah kaca ….. unik
11709493_10153667292753322_8343714366555565944_n_zpsn2qepvqs
11695418_10153667325193322_2439855586731911801_n_zpsyaa2yhpi
11693975_10153667312588322_7815137360321810210_n_zpsp3szbjaf
11249156_10153667296113322_7436739984658295705_n_zpsmfehltvt

 

Saat menuju ke gedung sebelah ……

patung” ini terlihat hidup … dan bergerak mengawasi saya …….. 

11666060_10153667293788322_7017267203994343160_n_zps1gvf3jtu
11667398_10153667348648322_2218224332291239637_n_zpsnq9nrvpg
Rasa ……… 

1908154_10153673679573322_9062803016295381109_n_zpsdcvrwvi9 11000265_10153673726538322_469348986608238248_n_zpstchlgkbj   11221596_10153673818758322_3422728313402260624_n_zpsbwupefni

11709418_10153673629273322_8999097604070855321_n_zpsksamyxho

      11667497_10153673802678322_3612222936808392425_n_zpsoalyxcu8 11692641_10153673757173322_1655494535272486550_n_zpsaxpebnmj

Video

Video

Ngujang, Tulungagung

Dahulu kala, ada sebuah Pondok Pesantren di Desa Ngantru yang berada tidak jauh dari Desa Ngujang. “Sampai sekarang pesantren itu masih ada,” katanya.

Suatu hari, dua orang santri Ponpes tersebut, laki-laki dan perempuan, tengah bermain-main di sekitar dua komplek makam. “Dahulu tempat tersebut bukanlah makam, hanya tempat biasa yang rindang karena banyak pohon-pohon besar yang tumbuh,” terang Toif, warga, menceritakan cerita sang juru kunci.

Sekarang pun pohon-pohon besar masih bisa dijumpai di areal pemakaman. “Dua santri itu sengaja membolos dari pengajian untuk bermain-main di tempat yang kini dijadikan tempat muja. Mereka bermain sambil memanjat pohon di tempat tersebut. Karena asyik bermain, kedua santri tersebut, lupa kalau ada pengajian rutin di pesantren tempat mereka belajar. Namun, tiba-tiba salah satu kiai mereka datang dan bertemu dengan dua santrinya yang asyik bermain tersebut,” kata Toif melanjutkan ceritanya.

Kedua santri itu masih asyik memanjat pohon ketika kyai mereka datang. Sedangkan sang kyai yang melihat kedua santrinya tidak mengikuti pengajian, menegur dua bocah tersebut. Kata sang kyai: “Nduk, le, kalian kok tidak ikut ngaji? Lihat teman-teman kalian sedang mengaji di pondok. Kalian kok malah memanjat pohon di sini, seperti kethek (kera) saja.”

Menurut orang-orang kuno, kata Toif menegaskan, khususnya orang-orang linuweh (sakti) seperti para kyai, kata-katanya ibarat kutukan. “Kedua santri itu, konon menjadi monyet yang hidup di sekitar makam Desa Ngujang. Monyet yang sering terlihat di sekitar makam Ngujang itu, adalah keturunan dari dua santri yang dikutuk menjadi monyet oleh kiai pondok tersebut. Sejak saat itu, desa itu disebut sebagai desa Ngujang yang berasal dari kata pawejangan, yang artinya tempat menuntut ilmu (pondok pesantren).”

dari: internet

Petilasan Eyang Jayabaya, Kediri, Jawa Timur
Petilasan Damarwulan, Megaluh, Jombang