Pangeran Jayakarta

Menurut sebuah sumber, Pangeran Jayakarta adalah putra Ratu Bagus Angke, juga bangsawan asal Banten. Ratu Bagus Angke alias Pangeran Hasanuddin adalah menantu Fatahillah atau Falatehan yang konon menantu Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah, peletak dasar Kesultanan Cirebon dan Banten.

 


Pangeran Jayakarta mewarisi kekuasaan atas Jayakerta dari Ratu Bagus Angke, yang sebelumnya memperoleh kekuasaan itu dari Fatahillah, yang memutuskan pulang ke Banten (Banten Lama sekarang), setelah berhasil merebut pelabuhan itu dari Kerajaan Pajajaran pada pertengahan Februari 1527. Waktu itu, ia juga berhasil menghalau pasukan Portugis.

Versi  lain Fatahilah adalah ulama  asal Samudera Pasai yang  baru saja pulang dari Mekkah. Ulama muda itu adalah Fadhilah Khan, orang Portugis mengucapkannya dengan nama Fatahillah atau Falatehan.

Sebelum berangkat ke Mekah, ia sudah tahu jalinan hubungan baik antar kerajaan Samudera Pasai dan Kerajaan Demak di Jawa. Ia berpikir, kelak jika tidak bisa masuk ke tanah kelahirannya usai menuntut ilmu di Mekah, ia bertekad menuju Demak.

Pada masa itu hanya ada tiga kekuatan Islam yang tumbuh dan berkembang di tanah Jawa, yaitu Demak, Banten, dan Cirebon, di wilayah Utara Jawa Barat. Fatahillah berhasil menyusup ke Cirebon.

Bersama Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, ia mensyiarkan agama Islam di tanah Sunda ini, bahkan ia sempat menjadi warga kehormatan di kerajaan Cirebon.

Cukup lama pemuda Aceh ini menetap di Cirebon. Ia menikah dengan Ratu Ayu, anak pasangan Syarif Hidayatullah dan Nyai Kawunganten asal Banten. Istri Fatahillah kemudian dikenal dengan nama Putri Wulung Ayu.

Setelah cukup lama menyebarkan agama Islam di Jawa Barat bersama sang mertua, niat utama Fatahillah untuk menuju Demak akhirnya tercapai juga. Itu dimungkinkan karena Kharisma dirinya yang telah lebih dulu masuk ke Demak.

Sultan Trenggana memberikan persetujuan terhadap rencana Fatahillah untuk mengusir Portugis yang bercokol di tanah Sunda atau Sunda Kelapa. Pada 22 Juni 1527, pasukan gabungan dari Demak, Cirebon dan Banten, di bawah pimpinan Fatahillah berhasil merebut Sunda Kelapa.

Di Jakarta.go id disebutkan  tanggal 22 juni dijadikan sebagai hari jadi kota Jakarta. Fatahillah kemudian mengganti nama Bandar kelapa menjadi Jayakarta, yang berarti kejayaan dan kesejahteraan, atau kemenangan yang sempurna.

Sejak saat itu, berakhirlah masa Sunda Kelapa, dan mulailah masa Jayakarta yang berlangsung hampir satu abad (1527-1619). Fadhilah Khan diangkat sebagai penguasa Jayakarta yang pertama dengan gelar Adipati sampai ia meninggal pada tahun 1570.

 

Masjid

Menurut Adolf Heukeun SJ dalam buku Sumber-sumber Asli Sejarah Jakarta Jilid II, silsilah ini tidak sesuai dengan sumber-sumber sekunder lain karena sumber-sumber yang digunakan oleh hikayat mengandung banyak cerita dongeng.

“Memang banyak versi tentang Pangeran Jayakarta, saya kira ini perlu penelitian lebih mendalam lagi,” ujar Yahya A.S, budayawan Betawi.

 

 

 

 

video

 

 

Pangeran Sanghyang
Kota Tua, Jakarta