Perjalanan ke Pantai Selatan 3

Kamar 308, Samudera Beach Hotel

Begitu masuk ke dalam kamar, nuansa mistis langsung terasa, membuat bulu kuduk berdiri merinding dengan sendirinya. Kamar ini dipenuhi bau dupa, nuansa warna hijau-warna kebesaran sang Ratu Kidul-begitu dominan di dalam kamar.

Begitu pula dengan lukisan yang menggambarkan kecantikan Sang Ratu, menghiasi beberapa dinding kamar tersebut. Ada pula bunga-bunga harum yang diletakkan di dalam vas. Sementara dupa dibakar di depannya.

Di sudut kamar, ada sebuah sofa berwarna merah dengan selubung kain berwarna hijau. Payung berwarna hijau juga sengaja diletakkan berdampingan di sofa tersebut.

Sementara itu, mahkota, serta beberapa perhiasan, hingga pakaian kebesaran Sang Ratu Kidul yang berwarna hijau, juga tersimpan rapi di dalam kamar ini. Barang-barang kesayangan Sang Ratu diletakkan di dalam kotak kaca.

Di sisi kamar yang lain, ada ranjang berhiaskan seprai berwarna hijau, lengkap dengan bantal dan gulingnya.

 

Setelah melalui perjalanan dari Pantai Selatan …

ada energi” yang masuk ke dalam badan kami …
walaupun belum matang … kami coba paksakan …

rasa penasaran kami

salam Supranatural

 

Saat akan meninggalkan Pantai Karanghawu …

ada galeri lukisan di pinggir jalan ….. dan tiba” …. dua lukisan itu … menarik kami … dan kami bawa ke BSD (rumah kami)

sebagai koleksi ….

Legenda Sunda
Masyarakat Sunda mengenal legenda mengenai penguasa spiritual kawasan Laut Selatan Jawa Barat yang berwujud perempuan cantik. Tokoh ini disebut Nyi Rara Kidul. Pada perkembangannya masyarakat cenderung menyamakan Nyi Rara Kidul dengan Kanjeng Ratu Kidul, meskipun dalam kepercayaan Jawa, Nyi Rara Kidul adalah bawahan setia Kanjeng Ratu Kidul. Berikut adalah kisahnya.

Di masa lalu, hiduplah seorang putri cantik bernama Kadita. Dewi Kadita adalah anak dari Raja Munding Wangi, Raja Kerajaan Pajajaran. Meskipun sang raja mempunyai seorang putri yang cantik, ia selalu bersedih karena sebenarnya ia selalu berharap mempunyai anak laki-laki. Raja pun kemudian menikah dengan Dewi Mutiara, dan mendapatkan putra dari perkimpoian tersebut. Maka, bahagialah sang raja.

Dewi Mutiara ingin agar kelak putranya itu menjadi raja tanpa ada penantang atas takhtanya, dan ia pun berusaha untuk menyingkirkan Dewi Kadita. Kemudian Dewi Mutiara datang menghadap raja, dan meminta agar sang raja menyuruh putrinya pergi dari istana. Sudah tentu raja menolak. Raja berkata bahwa ia tidak akan membiarkan siapapun yang ingin bertindak kasar pada putrinya. Mendengar jawaban itu, Dewi Mutiara pun tersenyum dan berkata manis sampai raja tidak marah lagi kepadanya. Tapi walaupun demikian, dia tetap berniat mewujudkan keinginannya itu.

Pada pagi harinya, sebelum matahari terbit, Dewi Mutiara mengutus pembantunya untuk memanggil seorang dukun tukang tenung. Dia ingin sang dukun meneluh atau mengutuk Kadita, anak tirinya. Sang dukun menuruti perintah sang ratu. Pada malam harinya, tubuh Kadita telah dipenuhi dengan kudis dan gatal-gatal.
Ketika dia terbangun, dia menyadari tubuhnya berbau busuk dan dipenuhi dengan bisul. Puteri yang cantik itu pun menangis dan tak tahu harus berbuat apa.
Ketika Raja mendengar kabar itu, beliau menjadi sangat sedih dan mengundang banyak tabib untuk menyembuhkan penyakit putrinya. Beliau sadar bahwa penyakit putrinya itu tidak wajar, seseorang pasti telah mengutuk atau mengguna-gunainya.

Masalah pun menjadi semakin rumit ketika Ratu Dewi Mutiara memaksanya untuk mengusir puterinya karena dianggap akan mendatangkan kesialan bagi seluruh negeri. Karena Raja tidak menginginkan puterinya menjadi gunjingan di seluruh negeri, akhirnya beliau terpaksa menyetujui usul Ratu Mutiara untuk mengirim putrinya ke luar dari negeri itu.

Puteri yang malang itu pun pergi berkelana sendirian, tanpa tahu kemana harus pergi. Dia hampir tidak dapat menangis lagi. Dewi Kadita yang berhati yang mulia, tidak menyimpan dendam kepada ibu tirinya, malahan ia selalu meminta agar Sang Hyang Kersa mendampinginya dalam menanggung penderitaan.

Hampir tujuh hari dan tujuh malam dia berjalan sampai akhirnya tiba di Samudera Selatan. Dia memandang samudera itu. Airnya bersih dan jernih, tidak seperti samudera lainnya yang airnya biru atau hijau. Tiba-tiba ia mendengar suara gaib yang menyuruhnya terjun ke dalam Laut Selatan. Dia melompat ke dalam air dan berenang. Tiba-tiba, ketika air Samudera Selatan itu menyentuh kulitnya, mukjizat terjadi. Bisulnya lenyap dan tak ada tanda-tanda bahwa dia pernah kudisan atau gatal-gatal. Malahan, dia menjadi lebih cantik daripada sebelumnya. Bukan hanya itu, kini dia memiliki kuasa dalam Samudera Selatan dan menjadi seorang dewi yang disebut Nyi Rara Kidul yang hidup selamanya. Kawasan Pantai Palabuhanratu secara khusus dikaitkan dengan legenda ini.

——-

Inna Samudra Beach

Sebagai Hotel pampasan perang Jepang yang dibangun dan di prakarsai oleh Bung Karno,merupakan hotel tertua di Palabuhanratu.

SBH adalah suatu Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dibangun tahun 1962 selesai akhir tahun 1965, 3 bulan lebih cepat dari waktu yang direncanakan, yang belum selesai adalah pembangunan restaurant terapung di depan hotel.

Biaya pembangunannya adalah dari dana Pampasan Perang Jepang sebesar + Rp. 660 milyar (uang rupiah lama) dan pelaksana pembangunannya PN Pembangunan Perumahan dari Indonesia dan Taisei Kanko Kabushiki Kaisha LTD. dari Jepang.

SBH Dibangun diatas lahan seluas 60HA termasuk lahan untuk pembuatan lapangan golf seluas 34,5 HA, tinggi bangunannya 32 meter, panjang 100 meter, lebar 13 meter, letak bangunannya memanjang dari timur ke barat bertulang beton dan menghadap Samudra Hindia.

 

Deretan foto pak Karno

 

Singgah sejenak, bermalam di sebelah room 308
Alhasil …….. ada perasaan aneh … dan membuat kami tidak bisa tidur

Batu Qur'an 2
Perjalanan ke Pantai Selatan 2