Sunan Bonang, Tuban, Jawa Timur

 

Sunan Bonang, Tuban, Jawa Timur

Perjalanan kami lanjutkan …..

Depan / Gerbang Makam

sbonang_01
dinding …..
sbonang_07
meminum air yang ada di Makam….
menghilangkan rasa haus akan pencarian kami …. perjalanan….. dll
sbonang_02
Kami ……….. 
sbonang_04
Makam
sbonang_05
Mang Haji ………
doa kami buat semua……………. 
sbonang_06
Bunda kami, dan Geulis… keponakan
sbonang_03

Video Ziarah Sunan Bonang

 

 

 

Biografi Sunan Bonang. 

Ia anak Sunan Ampel, yang berarti juga cucu Maulana Malik Ibrahim. Nama kecilnya adalah Raden Makdum Ibrahim. Lahir diperkirakan 1465 M dari seorang perempuan bernama Nyi Ageng Manila, puteri seorang adipati di Tuban. Sunan Bonang belajar agama dari pesantren ayahnya di Ampel Denta. Setelah cukup dewasa, ia berkelana untuk berdakwah di berbagai pelosok Pulau Jawa. Mula-mula ia berdakwah di Kediri, yang mayoritas masyarakatnya beragama Hindu. Di sana ia mendirikan Masjid Sangkal Daha.
Ia kemudian menetap di Bonang -desa kecil di Lasem, Jawa Tengah -sekitar 15 kilometer timur kota Rembang. Di desa itu ia membangun tempat pesujudan/zawiyah sekaligus pesantren yang kini dikenal dengan nama Watu Layar. Ia kemudian dikenal pula sebagai imam resmi pertama Kesultanan Demak, dan bahkan sempat menjadi panglima tertinggi. Meskipun demikian, Sunan Bonang tak pernah menghentikan kebiasaannya untuk berkelana ke daerah-daerah yang sangat sulit.

Ia acap berkunjung ke daerah-daerah terpencil di Tuban, Pati, Madura maupun Pulau Bawean. Di Pulau inilah, pada 1525 M ia meninggal. Jenazahnya dimakamkan di Tuban, di sebelah barat Masjid Agung, setelah sempat diperebutkan oleh masyarakat Bawean dan Tuban.Tak seperti Sunan Giri yang lugas dalam fikih, ajaran Sunan Bonang memadukan ajaran ahlussunnah bergaya tasawuf dan garis salaf ortodoks. Ia menguasai ilmu fikih, usuludin, tasawuf, seni, sastra dan arsitektur. Masyarakat juga mengenal Sunan Bonang sebagai seorang yang piawai mencari sumber air di tempat-tempat gersang.

Ajaran Sunan Bonang berintikan pada filsafat ‘cinta'(‘isyq). Sangat mirip dengan kecenderungan Jalalludin Rumi. Menurut Bonang, cinta sama dengan iman, pengetahuan intuitif (makrifat) dan kepatuhan kepada Allah SWT atau haq al yaqqin. Ajaran tersebut disampaikannya secara populer melalui media kesenian yang disukai masyarakat. Dalam hal ini, Sunan Bonang bahu-membahu dengan murid utamanya, Sunan Kalijaga.

Sunan Bonang banyak melahirkan karya sastra berupa suluk, atau tembang tamsil. Salah satunya adalah “Suluk Wijil” yang tampak dipengaruhi kitab Al Shidiq karya Abu Sa’id Al Khayr (wafat pada 899). Suluknya banyak menggunakan tamsil cermin, bangau atau burung laut. Sebuah pendekatan yang juga digunakan oleh Ibnu Arabi, Fariduddin Attar, Rumi serta Hamzah Fansuri.

Sunan Bonang juga menggubah gamelan Jawa yang saat itu kental dengan estetika Hindu, dengan memberi nuansa baru. Dialah yang menjadi kreator gamelan Jawa seperti sekarang, dengan menambahkan instrumen bonang. Gubahannya ketika itu memiliki nuansa dzikir yang mendorong kecintaan pada kehidupan transedental (alam malakut). Tembang “Tombo Ati” adalah salah satu karya Sunan Bonang.

Dalam pentas pewayangan, Sunan Bonang adalah dalang yang piawai membius penontonnya. Kegemarannya adalah menggubah lakon dan memasukkan tafsir-tafsir khas Islam. Kisah perseteruan Pandawa-Kurawa

 

———————–

 

 

Karomah SUnan Bonang

Sunan Bonang atau Maulana Makhdum adalah salah satu dari sembilan wali penyebar agama Islam di tanah Jawa pada abad ke 14.

Dia adalah putra Sunan Ampel dengan Nyai Ageng Manila, putri Adipati Tuban bernama Arya Teja, dan juga merupakan keturunan ke-23 dari Nabi Muhammad SAW.

Banyak cerita mengenai karomah dan kesaktian yang dimiliki Sunan Bonang salah satunya dapat merubah pohon aren menjadi pohon emas saat sang sunan bertemu dengan muridnya yaitu Raden Said atau yang dikenal sebagai Berandal Lokajaya. Kelak Berandal Lokajaya dikenal sebagai Sunan Kalijaga.

Selain itu dikisahkan, Sunan Bonang pernah menaklukkan Kebondanu, seorang pemimpin perampok, dan anak buahnya, hanya menggunakan tembang dan gending Dharma dan Mocopat.

Suatu ketika Sunan Bonang sedang berjalan melintasi hutan, Dalam perjalanan itu tiba-tiba  dicegat oleh sekawanan perampok pimpinan Kebondanu. Pada waktu dicegat oleh Kebondanu dan anak buahnya, Sunan Bonang hanya memperdengarkan tembang Dharma ciptaannya.

Seketika itu juga Kebondanu dan seluruh anak buahnya tidak dapat bergerak. Kaki dan tangan serta seluruh anggota badannya terasa kaku, tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

Oleh karena itu para perampok tersebut tidak dapat berbuat lain kecuali berteriak minta ampun kepada Sunan Bonang. ”Ampun… hentikan bunyi gamelan itu. Kami tak kuat,” begitu konon kata Kebondanu.

Setelah diminta bertobat, Kebondanu dan gerombolannya pun masuk Islam dan menjadi pengikut Sunan Bonang.

Tapi, kesaktian Sunan Bonang tak hanya terletak pada gamelan dan gaungnya. Cerita lain mengisahkan seorang brahmana bernama Sakyakirti yang berlayar dari India ke Tuban. Tujuannya ingin mengadu kesaktian dengan Sunan Bonang.

“Aku Brahmana Sakyakirti, akan menantang Sunan Bonang untuk berdebat dan adu kesaktian,” sumpah Brahmana sembari berdiri di atas geladak di buritan kapal layar.
“Jika dia kalah, maka akan aku tebas batang lehernya. Jika dia yang menang akau akan bertekuk lutut untuk mencium telapak kakinya. Akan aku serahkan jiwa ragaku kepadanya,”  sumpah sang Brahmana.

Namun ketika kapal yang ditumpanginya sampai di Perairan Tuban, mendadak laut yang tadinya tenang tiba-tiba bergolak hebat.

Angin dari segala penjuru seolah berkumpul menjadi satu, menghantam air laut sehingga menimbulkan badai setinggi bukit.

Dengan kesaktiannya, Brahmana Sakyakirti mencoba menggempur badai yang hendak menerjang kapal layarnya.

Satu kali, dua kali hingga empat kali Brahmana ini dapat menghalau terjangan badai. Namun kali ke lima, dia sudah mulai kehabisan tenaga hingga membuat kapal layarnya langsung tenggelam ke dalam laut.

Dengan susah payah dicabutnya beberapa batang balok kayu untuk menyelamatkan diri dan menolong beberapa orang muridnya agar jangan sampai tenggelam ke dasar samudera.

Walaupun pada akhirnya dia dan para pengikutnya berhasil menyelamatkan diri, namun kitab-kitab referensi yang hendak dipergunakan untuk berdebat dengan Sunan Bonang telah ikut tenggelam ke dasar laut.

Meski demikian, niatnya untuk mengadu ilmu dengan Sunan Bonang tak pernah surut.
Dia dan murid-muridnya telah terdampar di tepi pantai yang tak pernah dikenalnya. Dia bingung harus kemana untuk mencari Sunan Bonang.

 

Pada saat hampir dalam keputusasaan, tiba-tiba di kejauhan dia melihat seorang lelaki berjubah putih sedang berjalan sambil membawa tongkat.

Dia dan murid-muridnya segera berlari menghampiri dan menghentikan langkah orang itu. Lelaki berjubah putih itu menghentikan langkahnya dan menancapkan tongkatnya ke pasir.

“Kisanak, kami datang dari India hendak mencari seorang bernama Sunan Bonang. Dapatkah kisanak memberitahu di mana kami bisa bertemu dengannya?” tanya sang Brahmana.

“Untuk apa Tuan mencari Sunan Bonang?” tanya lelaki itu.

“Akan saya ajak berdebat tentang masalah keagamaan,” jawab sang Brahmana.
“Tapi sayang, kitab-kitab yang saya bawa telah tenggelam ke dasar laut. Meski demikian niat saya tak pernah padam. Masih ada beberapa hal yang dapat saya ingat sebagai bahan perdebatan,” kata sang Brahmana.

Tanpa banyak bicara, lelaki berjubah putih itu mencabut tongkatnya. Mendadak saja tersembur air dari bekas tongkat tersebut dan air itu membawa keluar semua kitab yang dibawa sang Brahmana.

“Itukah kitab-kitab Tuan yang tenggelam ke dasar laut?,” tanya lelaki itu.

Sang Brahmana dan pengikutnya kemudian memeriksa kitab-kitab itu, dan tenyata benar milik sang Brahmana. Berdebarlah hati sang Brahmana sembari menduga-duga siapakah sebenarnya lelaki berjubah putih itu.

Sementara itu para murid sang Brahmana yang kehausan sejak tadi segera saja meminum air jernih yang memancar itu.

Brahmana Sakyakirti memandangnya dengan rasa kuatir, jangan-jangan murid-muridnya itu akan segera mabuk karena meminum air di tepi laut yang pastilah banyak mengandung garam.

“Segar…Aduuh…segarnya…” seru murid-murid sang Brahmana.

Brahmana Sakyakirti termenung. Bagaimana mungkin air di tepi pantai terasa segar. Dia mencicipinya sedikit dan ternyata memang segar rasanya.

Rasa herannya menjadi-jadi terlebih jika berpikir tentang kemampuan lelaki berjubah putih itu yang mampu menciptakan lubang air yang memancar dan mampu menghisap kitab-kitab yang tenggelam ke dasar laut.

Sang Brahmana berpikir bahwa lelaki berjubah putih itu bukanlah lelaki sembarangan.
Dia mengira bahwa lelaki itu telah mengeluarkan ilmu sihir, akhirnya dia mengerahkan ilmunya untuk mendeteksi apakah semua itu benar hanya sihir.

Namun setelah dikerahkan segala kemampuannya, ternyata bukan, bukan ilmu sihir, tapi kenyataan.

Seribu Brahmana yang ada di India pun tak akan mampu melakukan hal itu, pikir Brahmana dalam hati. Dengan perasaan takut dan was-was, dia menatap wajah lelaki berjubah itu.

….
“Mungkinkah lelaki ini adalah Sunan Bonang yang termasyhur itu?,” gumannya dalam hati.
Akhirnya sang Brahmana memberanikan diri untuk bertanya kepada lelaki itu.

“Apakah nama daerah tempat saya terdampar ini?,” tanya Brahmana dengan hati yang berkebat-kebit.

“Tuan berada di Pantai Tuban,” jawab lelaki berjubah putih itu.

Begitu mendengar jawaban lelaki itu, jatuh tersungkurlah sang Brahmana beserta murid-muridnya.

Mereka menjatuhkan diri berlutut di hadapan lelaki itu. Mereka sudah yakin sekali bahwa lelaki inilah yang bernama Sunang Bonang yang terkenal sampai ke Negeri India itu.

“Bangunlah, untuk apa kalian berlutut kepadaku. Bukankah sudah kalian ketahui dari kitab-kitab yang kalian pelajari bahwa sangat terlarang bersujud kepada sesama makhluk. Sujud hanya pantas dipersembahkan kepada Allah Yang Maha Agung,” kata lelaki berjubah putih itu yang tak lain memang benar Sunan Bonang.

“Ampun…Ampunilah saya yang buta ini, tak melihat tingginya gunung di depan mata, ampunkan saya…,” ujar sang Brahmana meminta dikasihani.

“Bukankah Tuan ingin berdebat denganku dan mengadu kesaktian?,” tukas Sunan Bonang.
“Mana saya berani melawan paduka, tentulah ombak dan badai yang menyerang kapal kami juga ciptaan paduka, kesaktian paduka tak terukur tingginya. Ilmu paduka tak terukur dalamnya,” kata Brahmana Sakyakirti.

“Engkau salah, aku tidak mampu menciptakan ombak dan badai, hanya Allah SWT saja yang mampu menciptakan dan menggerakkan seluruh makhluk. Allah melindungi orang yang percaya dan mendekat kepada-Nya dari segala macam bahaya dan niat jahat seseorang,” ujar Sunan Bonang.

Memang kedatangannya bermaksud jahat ingin membunuh Sunan Bonang melalui adu kepandaian dan kesaktian.

Ternyata niatnya tak kesampaian. Apa yang telah dibacanya dalam kitab-kitab yang telah dipelajari telah terbukti.

Setelah kejadian tersebut, akhirnya sang Brahmana dan murid-muridnya rela memeluk agama Islam atas kemauannya sendiri tanpa paksaan. Lalu sang brahmana dan pengikutnya menjadi murid dari Sunan Bonang.

 

 

Sunan Drajat, Lamongan, Jawa Timur
Kisahku