Sunan Drajat

 

Sunan Drajat diperkirakan lahir pada tahun 1470 M. Sunan Drajat adalah putra bungsu Sunan Ampel dengan Nyi Ageng Manila. Ayah dari Sunan Drajat bernama Raden Rahmat yang terkenal dengan Sunan Ampel, salah seorang Walisongo yang memiliki wilayah dakwah di daerah Ampel Denta, Surabaya.

 

Sementara itu, ibu dari Sunan Drajat bernama Nyai Ageng Gede Manila atau Candrawati, putri Arya Teja IV, seorang adipati Tuban yang masih mempunyai hubungan nasab dengan Ronggolawe. Semasa muda, Sunan Drajat terkenal dengan sebutan Raden Qasim, Qosim, atau Kasim.

Selain itu, masih banyak nama lain yang disandangnya, antara lain Sunan Mahmud, Sunan Mayang Madu, Sunan Muryapada, Raden Imam, Maulana Hasyim, Syekh Masakeh, Pangeran Syarifuddin, Pangeran Kadrajat, dan Masaikh Munat (Tim Peneliti dan Penyusunan Sejarah Sunan Drajat 1998). Raden Qosim adalah Adik Nyai Patimah, Nyai Wilis, Nyaitaluki dan Raden Mahdum Ibrahim (Sunan Bonang) (Syamsuddin 2016:216).

Dengan demikian berarti garis nasab Sunan Drajat sama dengan Sunan Bonang yang berasal dari Sunan Ampel yakni berdarah Champa-Samarkand-Jawa karena Sunan Ampel adalah putra Ibrahim Asmarakandi (Sunyoto 2016:304).

Dalam memperdalam ilmu agama, Sunan Drajat belajar kepada ayahnya Sunan Ampel kemudian ke Cirebon untuk berguru pada Sunan Gunung Jati. Menurut tradisi yang berkembang, ada kecenderungan seorang kiai akan menyuruh anaknya untuk mengaji kepada kiai lain yang dipercaya memiliki ilmu lebih
tinggi, baik itu dahulunya adalah kawan mengaji maupun mantan santrinya.

 

 

Tradisi itu tampaknya juga berlaku pada diri Sunan Drajat saat masih remaja. Seperti diketahui umum bahwa Sunan Ampel adalah guru semua para wali, termasuk Syarif Hidayatullah yang merupakan santri di Ampel Denta Surabaya yang setelah lulus memperoleh tugas mengembangkan agama Islam di Cirebon. Selama belajar di Cirebon, beliau banyak dikenal dengan sebutan Syekh Syarifuddin dan bergelar Pangeran Drajat. Selama di Cirebon Sunan Drajat diminta membantu tugas dakwah oleh Sunan Gunung Jati kepada masyarakat Cirebon, agaknya tidak ada kesulitan karena bahasa yang dipakai oleh masyarakat di sana adalah bahasa Jawa Cirebon.

Pangeran Drajat muncul Drajatnya menjadi anggota Walisongo melalui musyawarah para wali di Balai Sidang Para Wali di kompleks Keraton Pakungwati setelah Syeh Siti Jenar dihukum pancung. Sunan Drajat kemudian menikah dengan putri Sunan Gunung Jati yang bernama Dewi Sufiyah yang dikaruniai tiga putra dan putri yaitu Pangeran Trenggana, Pangeran Sandi dan Dewi Wuryan. Selain menikah dengan Dewi Sufiyah, Sunan Drajat juga menikah dengan Nyai Kemuning dan nyai Retna Ayu Candra.

 

video

Sunan Maulana Malik Ibrahim
Syeh Maulana Ibrahim Asmoro Qondi