Sunan Gunung Jati

Cerita lengkap mengenai Sunan Gunung Jati turun temurun dikisahkan oleh Jeneng Makam Sunan Gunung Jati alias keturunan panglima dan juru kunci Sunan Gunung Jati.

Cerita berawal saat Nyai Rara Santang yang merupakan anak kandung Prabu Siliwangi, hijrah bersama kakaknya, Pangeran Walangsungsang, ke Cirebon.

“Ketemu Syeikh Abdul Kahfi yang ditemuinya dalam mimpi. Mereka mohon izin jadi santri lalu masuk Islam,”cerita Jeneng HM Imron kepada merdeka.com, Cirebon, Rabu (13/5).

Setelah sudah cukup ilmu, keduanya lantas beribadah haji. Tak diduga Raja Mesir Syarif Abdullah bin Nur Alam bin Jamaluddin Akbar jatuh hati kepada Nyai Rara Santang, yang tak lain ibu kandung Sunan Gunung Jati.

Sunan Gunung Jati memutuskan kembali ke tanah Jawa untuk berdakwah.

“Dia tadinya ingin diangkat jadi sultan Mesir tapi katanya pengennya dakwah saja untuk Nusantara. Adiknya yang jadi sultan mesir,”

Akhirnya Sunan Gunung Jati kembali ke Indonesia. Dia juga kembali bertemu dengan pamannya Pangeran Walangsungsang.

“Mereka bikin padepokan, rumah untuk sentral ajaran agama Islam yang sekarang jadi kuburan,” tambah dia.

Mulai dari sini lah syarif Hidayatullah mulai membuka kota Cirebon dan pemerintahan Keraton Kesultanan Cirebon serta mendapat nama Sunan Gunung Jati, nama tempat di daerah Cirebon.


 

Putri Ong Tien Nio

SIAPA Putri Ong Tien Nio yang dalam babad Cirebon menikah dengan Sunan Gunung Jati? Benarkah Ong Tien Nio adalah putri Kaisar Ming?. Dalam Kisah Masyarakat Cirebon yang ditulis Masduki Sarpin. “Sambil mengejek” kaisar mengatakan sesungguhnya putri Ong Tien Nio tidaklah mengandung.

 

Untuk membuktikannya kaisar membuka ikatan bokor kuningan di atas perut putrinya. Tetapi betapa kagetnya sang kaisar,  dengan kehendak Allah swt. Sirnahing goro wujuding nyata, bokor yang dinadung itu hilang tanpa krana dan putri Ong Tien Nio benar-benar mengandung.”

Kutipan dari Pustaka Negara Krethabumi (1670)  di bawah ini cukup memberikan gambaran, siapa sesungguhnya Putri Ong Tien Nio.

 

(diceritakan Sunan Jati menikah dengan putrinya Pangeran Cakrabhuwana ialah Nay Pakungwati juga Sunan Jati menikah dengan Putri Cina Ong Tien Nio ialah Lia NyonTien namanya. Dari pernikahannya berputra seorang laki-laki yang meninggal pada waktu baru dilahirkan di Dukuh Luragung. Sang Ayu menangis sedih,  karena itu Sang Ayu mengangkat Raden Kemuning anak Ki Agheng Luragung yang baru lahir sebagai  anak, sedangkan Sang Ayu selanjutnya  memberi bokor kuningan kepada Ki Agheng.

 

Bokor itu dibawanya dari negeri Cina. Ada pun yang membuat bokor itu sang nagabraja dengan nama Hong Gi, maharaja penunggang kuda dari Wangsa (dinasti) Ming. Datangnya Sang Ayu ke Pulau Jawa memakai perahu bernama Bantalleo dengan empatpuluh orang pengiring yang kelak sebagian memeluk agama Islam yang sebagian (tetap) agama Budha. Sang Ayu itu dibarengi oleh Senapati Li Gwan cang dan nahkoda Li Gwan Hin namanya yang meninggal di Gunung Kumbang.  Takce tersebut berasal dari Ling seorang nahkoda, sanak keluarganya Ki Dampu (Awang) dari Negeri Cempa asalnya.

Selanjutnya balatentara Cina yang telah memeluk agama Islam dimakamkan di Gunung Amparan Jati berjajar semua satu pasukan, (adapun) perahu Bantalleo itu tiba (dan)  berhenti di Muara Jati, selanjutnya kembali ke Negeri Cina berhenti di Palembang. Raja Cina teringat sedih kepada anaknya, sebab Sang Ayu tidak kembali, karena telah menikah dengan Syariph Hidayat di Dukuh Pasambangan. Sang Ayu kesukaannya itu pethis, oleh karena itu disebut Ratu Pethis, dengan Putri Cina (Susuhunan Jati) hanya empat tahun).

 

Sayyid Hussein Jumadil Kubro
Gunung Santri, Cilegon