Troloyo Mojokerto

Troloyo
Mojokerto

Tumenggung Satimoyo
(panglima Majapahit yang membantu penyebaran
agama Islam di Majapahit)

ziarah_4satim_zps2c9bdf46

 

Syech jumadil Kubro

ziarah_5syechjumadil_zps1cf03b07

 

 

Sunan Ngudung

ziarah_6sunan_zps6310c80c
Tumenggung Ismoyo

ziarah ke Syech Jumadil Kubro

ziarah keSunan Ngudung

 

Eksistensi Islam dapat dilacak dari adanya makam Islam di sejumlah tempat di situs Triwulon. Diantaranya puluhan nisan batu kuna di pemakaman Tralaya (Troloyo). Tralaya terletak di Dusun Sidodadi, Desa Sentonoreja, Trowulon, Mojokerto. Tralaya hanya 2 Km dari selatan Desa Trowulan pusat petilasan Kotaraja (ibukota) kerajaan Majapahit, atau sekitar 15 Km arah barat daya ibu kota Kabupaten Mojokerto.
Pada nisan-nisan ini terpahat tulisan-tulisan arab; diantaranya berbunyi La-ila ha ‘ilallah Muhammadur Rasulullah.

Sebagian besar nisan bertulisan Arab ini, bertahun rata-rata antara 1368 hingga 1611 M. Memberi bukti, Islam masuk dan berkembang, melintasi masa Majapahit mencapai kejayaan dibawah pemerintahana rajaHayam Wuruk yang didampingi Maha patih Gajah Mada yang sangat terkenal (1350-1389 M).

Di antara lebih 80.000 artefak peninggalan Majapahit yang tersimpan di Museum Trowulon, juga terdapat nisan-nisan batu dengan tulisan Arab yang ditemukan dari berbagai tempat.

Peninggalkan berupa kidung Sunda yang mengisahkan kedatangan pasukan Sunda yang mengantarkan calon pengantin putrid untuk raja Hayam Wuruk. Pasukan terdiri dari 300 punggawa dipimpin empat orang perwira.

Pasukan ini, masuk ibukota Majapahit; berjalan kearah Selatan hingga Mesjid Agung di Palawiyan. Sedang pasukan Majapahit yang hendak menerima kedatangan pasukan pengiring penganten menunggu di masjid Agung.

Sayang, petilasan Masjid Agung, di kawasan yang disebut sebagai palawiyan di tengah ibukota kerajaan Majapahit, hingga saat ini belum ditemukan.

Menurut Ying Yai Shing Lan, berita asing tentang sejarah yang ditulis Ma Huan (1416 M), dan buku The Malay Annals of Semarang and Cerbon yang diterjemahkan HJE de Graaf, telah datang utusan dari China di masa Dinasti Ming (abad 15 M). Utusan-utusan yang bermukim ditengah kota Kerajaan Majapahit itu sebagaian besar Muslim.

Para peneliti juga menemukan nama-nama keluarga raja Majapahit yang sudah memeluk Islam. Di antaranya: Putri Kencana Wungu, Dewi Anjasmara, dan Tumenggung Satim Singomoyo.

Satu nama nisan di Trowulan yang terkenal adalah Syekh Jumadil Kubro. Sang Syekh adalah ulama asalSamarkhan, Azerbaijan. Di Majapahit, di samping berdakwah juga berdagang dengan mengkhususkan perdagangan emas, intan, jamrud dan berbagai jenis permata lainnya.

Sebelum mencapai Majapahit, Syekh Jumadil Kubro pada tahun 1395 M masih berada di Chempa (Muangthai). Kuntoro Sayyid Ibrahim, Raja Chempa ketika itu sangat tertarik dengan pribadi Syekh Jumadil Kubro, dan dijadikan menantu dinikahkan dengan Dewi Candrawulan.

Dari pernikahan ini, lahir dua orang anak, yaitu Ali Rahmatullah (yang kemudian terkenal sebagai Sunan Ampel-Surabaya). Seorang lagi adalah Ali Murtadlo, yang tetap tinggal bersama kakeknya di Chempa.

Perniagaan Syekh Jumadil Kubro pada tahun 1399 M berlanjut ke wilayah Jawa, di sekitar Ibukota Majapahit. Ketika tiba di Majapahit, sebuah kerajaan Hindu dan Budha terbesar merasakan kesulitan dalam mendakwahkan Islam.

Bahkan, sebagian besar masyarakat juga masih memegang kepercayaan animisme (memuja roh-roh nenek moyang) serta memuja benda-benda yang dianggap keramat.

Kegiatan dakwah tetap harus terbungkus rapi dalam kegiatan perdagangan. Namun, setelah berhasil mengislamkan Tumenggung Satim Singomoyo, seorang pejabat tinggi di lingkungan Kerajaan Majapahit ini, menjadi jembatan sukses dakwah Jumadil Kubro. Masyarakat Mojopahit yang paternalistic, mulai tergerak mengikuti langkah Tumenggung Satim yang memang sangat berpengaruh.

Dakwah Islam di tanah Majapahit semakin berkembang, setelah Syekh Jumadil Kubro terlibat langsung dalam mengatasi perang saudara yang membawa perpecahan Majapahit. Perang Saudara berlangsung selama tiga tahun antara tahun 1403 hingga 1406 M, yang kemudian dikenal dengan Paragreg.

Setelah era pemerintahan Kusumawadhani, sebenarnya sebagai penerus adalah Pamaton, putra mahkota bergelar Rajasa Wardhana. Namun lebih mendengarkan saran ‘Ulama Islam, terutama dari Syekh Jumadil Kubro, penerus kekuasaan Majapahit diberikan kepada Suhita gelar Prabhustri.

Pertimbangannya, walaupun Suhita anak kedua Wikramawardhana dari seorang istri selir, namun istri selir dimaksud adalah putri Wirabhumi. Diharapkan dengan diangkatnya Suhita menjadi raja,  ketegangan dan persengketaan perebutan tahta, benar-benar dapat dituntaskan.

Suhita lengser keprabon (turun tahta) tahun 1447 M, tampuk kekuasaan Majapahit dikembalikan ke Bhre Pamaton. Pengaruh kekuasaan Hindu Majapahit sangat besar dan luas. Karena kondisi demikian, Syekh Jumadil Kubro kembali ke negeri asalnya Samarkhan (Azerbaijan) dan bertemu dengan Khalifah Sultan Muhammad I di Turki untuk mengusulkan membentuk kekuasaan dakwah ke Pulau Jawa.

Mendasar usulan itu, Khalifah menunjuk sembilan Ulama dan membagi tugas menjadi tiga bagian di Pulau jawa. Masing-masing bagian terdiri dari tiga Ulama dengan berbagai keahlian. Sembilan orang kemudian terkenal sebagai Wali Songo.

 

 

Ziarah Ke Kyai Asyari, Keras (kakek uyut Gusdur)
Ritual mandi 7 bunga untuk calon pengantin