Ziarah Ke Syeh Maulana Yusuf, Banten

Perjalanan kami ………….
(kiyudi, bang Arief, dan pak H. Kosasih….)

Di Bulan Mulud ……… 
bersama rombongan…. ibu” pengajian …

Ziarah ke makam” Syeh di Banten ….

Ziarah Ke Syeh maulanan Yusuf, Banten….

 

1609801_10152261675203322_2008192467_n_zps14fbf3d7

 

Maulana Yusuf, Sultan Banten II (1570 – 1580)

Sepeninggal Maulana Hasanuddin, kepala pemerintahan Banten dipegang oleh Maulana Yusuf, Beliau adalah anak ke dua Sultan Maulana Hasanuddin dari pernikahannya dengan Ratu Ayu Kirana putri dari Sultan Trenggono.
Pada masa pemerintahan Maulana Hasanuddin, pembangunan negara lebih dipusatkan pada bidang keamanan, perluasan daerah, dan perdagangan di samping penyebaran Islam. Tapi pada masa pemerintahan Maulana Yusuf, disamping pendidikan agama juga lebih dititik beratkan pada bidang pengembangan kota, keamanan perdagangan dan pertanian. Dalam masa pemerintahannya pulalah Pakuan ibukota Pajajaran dapat ditaklukan. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1579 ((Djajadiningrat, 1983: 37).

Pada masa pemerintahan Maulana Yusuf, perdagangan sudah begitu pesat hingga Banten dikenal sebagai tempat penimbunan barang-barang dari segala penjuru dunia yang nantinya disebarkan ke seluruh Nusantara (Sutjipto, 1961: 13). Situasinya bisa digambarkan sebagai berikut : para pedagang dari cina membawa para pedagang dari cina membawa uang kepeng (uang yg terbuat dari timah), porselen, kain sutra, benang emas, jarum, sisir, payung, dsb. Pulangnya mereka membeli rempah-rempah, kulit penyu, gading gajah. Begitu pula dengan orang Gujarat dan orang Portugis. Mereka datang membawa barang dan menjualnya disana dan kemudian waktu pulang mereka juga membeli barang. Sehingga roda perputaran ekonomi begitu pesat.
Dengan majunya perdagangan ini, maka kota Banten menjadi ramai baik oleh penduduk dari Banten sendiri maupun oleh pendatang. Oleh karena itu, dibuatlah aturan penempatan penduduk ini atas dasar keahlian dan asal daerahnya. Untuk orang asing biasanya ditempatkan di luar tembok kota. Seperti Kampung Pekojan yang terletak disebelah barat pasar Karangantu, yang diperuntukan bagi pedagang-pedagang muslim dari Arab, Gujarat, Mesir, dan Turki. Sedangkan Kampung Pecinan terletak di sebelah barat Masjid Agung di luar batas kota. Adapula Kampung Panjunan tempatnya tulang anjun atau Adapula Kampung Panjunan tempatnya tulang anjun atau tulang gerabah, periuk, dsb. Kampung Kepandaian untuk pandai besi, Pangukiran untuk tukang ukir, Pagongan tempat pembuat gong dan gamelan, Sukadiri untuk pengecoran logam dan pembuat senjata perang (Sartono, 1975: 162). Begitu pula dengan golongan sosial tertentu seperti Kademangan untuk demang, Kesatrian untuk pasa senopati, perwira dan prajurit istana. Kefakihan untuk para ulama-ulama Islam (Halwany: 1981:31). Pengelompokan ini dimaksudkan untuk kerapihan, keserasian, dan keamanan kota.

Tembok keliling kota diperkuat dan dipertebal, demikian pula dengan tembok benteng disekeliling istana diperkuat dengan lapisan dari batu karang, dengan parit-parit disekelilingnya. Sehingga dalam Babad Banten disebutkan “Gawe kuta bulawarti bata kalawan kawis”(Djayadiningrat, 1983: 38). Masjid Agung juga diperbaiki dan dilengkapi menara dengan bantuan Cek Ban Cut, seorang arsitek muslim asal Mongol (Ismail, 1983).
Disamping mengembangkan pertanian yang sudah ada, Sultan juga mendorong rakyatnya untuk membuka lahan pepesawahan baru. Oleh karena itu sawah di Banten bertambah luar. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan airnya, maka dibuatlah saluran-saluran air dan bendungan.
Bagi pesawahan yang terletak di sekitar kota, dibuatlah satu danau buatan yang disebut Tasikardi. Sungai Cibanten dijadikan sumber air untuk mengairi danau ini dan kemudian dibagi ke daerah-daerah pesawahan disekitarnya.
Tasikardi juga digunakan sebagai penampungan air bersih untuk kebutuhan kota. Dengan melalui pipa-pipa yang terbuat dari terakota, air diendapkan dan kemudian dialirkan ke keraton dan tempat-tempat lain di dalam kota. Ditengah danau tersebut terdapat pulau kecil yang digunakan untuk tempat rekreasi keluarga keraton.

Dari perkimpoiannya dengan Ratu Hadijah, Maulana Yusuf dikaruniai dua orang anak, yaitu : Ratu Winaon dan Pangeran Muhammad. Sedangkan dari istri-istrinya yang lain, dikaruniai anak antara lain : Pangeran Upapati, Pangeran Dikara, Pangeran Mandalika atau Pangeran Padalina, Pangeran Aria Ranamanggala, Pangeran Mandura, Pangeran Seminingrat, Pangeran Dikara (lagi), Ratu Demang atau Ratu Demak, Ratu Pacatanda atau Ratu Mancatanda, Ratu Rangga, Ratu Manis, Ratu Wios, dan Ratu Balimbing (Djayadiningrat, 1983: 39).

Pada tahun 1580, Maulana Yusuf mangkat dan kemudian dimakamkan di Pekalangan Gede dekat Kampung Kasunyatan sekarang. Setelah meninggalnya Maulana Yusuf diberi gelar Pangeran Panembahan Pekalangan Gede atau Pangeran Pasarean. Dan sebagai penggantinya diangkatlah anaknya yaitu Pangeran Muhammad yang pada waktu itu baru berusia 9 tahun (Djayadiningrat, 1983:162-163).

sumber:
http://gapurasunda.blogspot.com/2011…n-ii-1570.html

 

—————————————

 

Makam Syeh Maulana Yusuf, Banten

1521311_10152261671943322_1994920949_n_zps78300da9

 

1601122_10152261674033322_991768528_n_zps21900c70

 

video

Sultan Hasanuddin, Banten
Masjid Pintu Seribu