Ziarah Sunan Ampel, Surabaya

s ampel_1

 

Makam Sunan Ampel

s ampel_3

 

Ajaran Raden Rahmat

Karena beliau bertempat tinggal dan menetap di Desa Ampeldenta dan menjadi penguasa di sana, maka ia dikenal sebagai Sunan Ampel, yang artinya Sesuhunan atau panutan masyarakat. Semakin lama bertambah banyak orang yang menimba ilmu kepada beliau , tidak hanya dari kalangan bangsawan Majapahit saja, bahkan dari kalangan masyarakat umum pun juga tidak kalah banyaknya.

Adapun ajaran beliau yang sangat terkenal adalah Falsafah MO-LIMO yang artinya “MO” adalah ora gelem (tidak mau) dan “LIMO” artinya perkarfa lima. Jadi maksud dari kataMO-LIMO ialah tidak mau melakukan perkara lima yang dilarang, yaitu:

  1. Emoh Main atau tidak mau main (judi)
  2. Emoh Ngombe atau tidak mau minum-minuman yang memabukkan
  3. Emoh Madat atau tidak mau minum/menghisap candu atau ganja dan sejenisnya
  4. Emoh Maling, atau tidak mau mencuri dan korupsi
  5. Emoh Madon, Atau tidak mau main perempuan yang bukan istrinya (berzina)

s ampel_2

 

Mbah Soleh

Di sebelah timur Masjid Agung Sunan Ampel ada sembilan kuburan. Itu bukan kuburan sembilan orang, tapi hanya kuburan satu orang, yaitu murid Sunan Ampel yang bernama Mbah Soleh.

Kisahnya seperti ini. Mbah Soleh adalah seorang tukang sapu Masjid Ampel semasa hidupnya Sunan Ampel. Apabila menyapu lantai sangatlah bersih sekali sehingga orang yang sujud di masjid tanpa sajadah tidak merasa ada debu.

Ketika Mbah Soleh wafat, beliau dikubur di depan masjid. Ternyata tidak ada santri yang sanggup mengerjakan pekerjaan Mbah Soleh, yaitu menyapu lantai masjid dengan bersih sekali.
Maka sejak ditinggal Mbah Soleh, masjid itu lantainya menjadi kotor. Kemudian terucaplah kata-kata Sunan Ampel, bila Mbah Soleh masih hidup tentulah masjid ini menjadi bersih.

Mendadak Mbah Soleh ada di pengimaman sedang menyapu lantai. Seluruh lantai pun sekarang menjadi bersih lagi. Orang-orang terheran melihat Mbah Soleh hidup lagi.

Beberapa bulan kemudian Mbah Soleh wafat lagi dan dikubur di samping kuburannya yang dulu. Masjid menjadi kotor lagi. Lalu, terucaplah kata-kata Sunan Ampel seperti dulu. Mbah Soleh pun hidup lagi. Hal ini berlangsung beberapa kali sehingga kuburannya ada delapan.

Pada saat kuburan Mbah Soleh ada delapan, Sunan Ampel meninggalkan dunia. Beberapa bulan kemudian Mbah Soleh juga meninggal dunia, sehingga kuburan Mbah Soleh ada sembilan. Kuburan yang terakhir berada di ujung sebelah timur.

s ampel_5

 

Mbah Bolong

Berikutnya, Mbah Sonhaji. Ia sering disebut Mbah Bolong. Apa pasalnya? Ini bukan gelar kosong atau sekedar olok-olokan. Beliau adalah salah seorang murid Sunan Ampel yang mempunyai karomah luar biasa.

Kisahnya demikian, pada waktu pembangunan Masjid Agung Ampel, Mbah Sonhaji lah yang ditugasi mengatur tata letak pengimamannya. Mbah Sonhaji bekerja dengan tekun dan penuh perhitungan, jangan sampai letak pengimaman masjid tidak menghadap arah kiblat. Tapi setelah pembangunan pengimaman itu jadi banyak orang yang meragukan keakuratannya.

Apa betul letak pengimaman masjid ini sudah menghadap ke kiblat? Begitu tanya orang meragukan pekerjaan Mbah Sonhaji.

s ampel_4

Mbah Sonhaji tidak menjawab, melainkan melubangi dinding pengimaman sebelah barat lalu berkata, “lihatlah ke dalam lubang ini, kalian akan tahu apakah pengimaman ini sudah menghadap kiblat atau belum?”

Orang-orang itu segera melihat ke dalam lubang yang dibuat oleh Mbah Sonhaji. Ternyata di dalam lubang itu mereka dapat melihat kabah yang berada di Makah.
Orang-orang ada melongo, terkejut, kagum dan akhirnya tak berani meremehkan Mbah Sonhaji lagi. Dan sejak itu mereka bersikap hormat kepada Mbah Sonhaji dan mereka memberinya julukan Mbah Bolong.

Abuya, Ciomas Pandeglang
Ziarah ke Gus Dur, Jombang, Jawa Timur